Kamis, Mei 16, 2013

A Friend's Story - Too Much?

Sori, ini bukan kelanjutan dari petualangan gw di jogja. Gw masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di hari ketiga. Masalahnya gw cuman inget sampe siang hari dan lupa apa yang terjadi pada malamnya. Jangan-jangan ada sesuatu terjadi ama gw pada malam itu?? *bayangin yang aneh-aneh*


Jadi selagi menunggu gw inget tentang kejadian hari itu, ada seorang pembaca setia blog ini, seorang teman yang identitasnya minta dirahasiakan karena alasan kemaluan, yang mengirimkan cerita tentang dirinya.

Ceritanya teman gw ini sedang galau. ia ingin menyampaikan kegalauannya melalui tulisan. Namun ia tidak memiliki media untuk mengungkapkan isi hatinya yang gundah. Mau nulis di Facebook malu. Akhirnya ia meminta tolong kepada gw untuk mempublikasikan tulisannya.

Gw pun menyetujui permintaannya, berharap dengan begini beban di hatinya bisa berkurang,  dan perasaannya tersampaikan. So, this is her story....







Keadaan yang nyatuin kita. Keadaan juga yang misahin kita. 

Nggak mungkin gw pacaran dengan dia itu kebetulan. Dan nggak mungkin gw pisah dengan dia juga tanpa tujuan. Selama ini, selama 2 tahun lebih, adalah 2 tahun yang paling *ehem* indah buat gw. Waktu yang nggak bisa dibilang singkat, walaupun bukan waktu yang lama juga. Waktu dimana gw belajar banyak hal dari orang yang terlalu luar biasa bagi gw. Orang yang pertama kali, benar-benar pertama kali, membuat gw melihat bahwa ternyata memang ada manusia sebaik orang itu. 

Banyak. Terlalu banyak hal yang gw dapat dari dia. Terlalu banyak pelajaran yang dia kasih untuk gw. Terlalu banyak perubahan positif dari diri gw yang dia buat. Dia satu-satunya orang yang bisa membuat gw lebih bisa membuka mata sama apa yang ada di sekitar gw. Membuat gw sadar, ternyata gw belum menjadi manusia yang baik, seperti yang selama ini gw pikirkan. Dia seperti cahaya (yah, gw tahu ini sangat dangdut) dalam hidup gw, yang tanpa gw sadari, membuat gw bisa melihat apa yang selama ini tidak gw lihat. 

Sekali lagi, terlalu banyak. Terlalu banyak pelajaran yang dia kasih untuk gw. 

Anyway, nobody's perfect kan? Tetep lah ya. 

Kekurangannya cuma satu. Bukan. Dia bukan tipe cowok brengsek yang matanya kemana-mana. Atau tipe cowok yang kurang ajar sama perempuan. Atau tipe-tipe setipe lainnya. Nggak berat. Dan mungkin nggak seburuk orang lain. 

Tapi kalau dilakukan berjuta-juta kali, gondok sih. 

Sudah nggak terhitung sepertinya berapa kali gw marah karena itu. Sebagai manusia normal, memang, dia bisa memperbaiki dan jauh lebih baik dari awal pacaran. Tapi kekurangannya itu ternyata memang tidak bisa sepenuhnya gw ubah. Dari jatuh-bangun-berdiri-jatuh lagi-bangun lagi-ternyata masih jatuh lagi, tetep masih sama. 

Bukan. Bukan ini alasan gw pisah. 

Baiklah. Pada akhirnya gw bisa berpikir kalau memang begitulah dia. Nggak. Gw nggak mau bilang gw itu malaikat tersabar dan cewek tertegar masa kini. Tapi pada akhirnya, dengan segala kekurangan dan naik turun itu, gw mencoba menerima dia. Tapi ternyata, masalahnya bukan di dia. Tapi di gw. 

Yap, gw.

Tolol. Mungkin itu kata yang cocok untuk gw. Gw sadar akan kepribadian gw yang terlalu sering nggak-enakan sama orang lain. Ini salah gw. Nggak sepenuhnya permasalahan ada di orang itu juga. Mungkin gw sering mengeluh "capek" akan sikap dia. Tapi, mungkin gw juga terlalu "buta" untuk melihat bahwa dia juga se-"capek" gw. Sama aja.

Intinya, gw dan dia sama-sama menuntut. Sama-sama punya ekspektasi masing-masing yang ternyata nggak kesampaian. 

Intinya lagi, sama-sama capek.

Nggak sih. Nggak sesimpel ini masalahnya. Tapi terlalu rumit bagi gw untuk menjelaskannya disini.

Kalau ngutip lagunya Naif sih, “Aku tak tahu apa yang terjadiiiii~ antara aku dan kaaauuu~”

Oke. Cukup.

Dan bagaimana perasaan gw setelah kejadian ini? Galau? Labil? Hey. Menurut salah satu mata kuliah gw, umur gw saat ini adalah umur yang memasuki tahap dewasa awal. Sekali lagi, dewasa. Yah, walaupun ada kata awal di belakangnya. Tapi tetep aja, (mungkin) gw seharusnya bisa menerima ini semua dengan dewasa kan? Maafkan gw yang terlalu naif. Dan basi mungkin. Tapi gw memang harus melihat segala sesuatunya dari semua sisi. Itu kan yang diajarkan dia ke gw? (eh, masih dibahas). Soal air mata yang ternyata masih nggak mau berhenti, ya pasti suatu saat akan berhenti juga seiring waktu yang bisa menyembuhkan. Gila. Udah kelihatan bijak belum?

Oke. Maaf. Barusan gw hanya ingin terlihat dewasa. *garuk-garuk tembok*

Mungkin disini memang saatnya untuk berhenti. Berhenti dari semua siklus yang selalu terulang. Berhenti dari semua permasalahan yang kayaknya kok ya nggak jelas ujungnya. Mungkin ini memang yang paling baik. Mungkin ya. Mungkin.

Too much memories. Too much lesson. Too much love. And too much hurts. Kalau ada orang nanya, "Mau balikan nggak? Masih sayang?"

Please, jangan paksa gw untuk jawab....








Tidak ada komentar: