Kamis, Juli 09, 2015

A Little Story of Milano

Kata orang bijak, nama adalah doa. Orangtua memberi nama anaknya dengan harapan bahwa anak tersebut kelak tumbuh sesuai dengan arti yang dibawa oleh nama anak tersebut. Misalnya saja, anak bernama Grace pasti diharapkan menjadi berkat bagi orang di sekitarnya. Anak bernama Paiman pasti diharapkan jadi koki kue pie terhebat. dan Anak bernama Suparman pasti diharapkan jadi superhero.

Namun terkadang tak semua orang tua berpikir sekeras itu untuk memberi nama anaknya. Beberapa orang tua di daerah tertentu mempunyai tradisi memberi nama anak sesuai dengan benda pertama yang dilihatnya. Misalnya, jika ketika lahir orangtuanya melihat Obeng, maka dengan ditambah marga, nama anak tersebut menjadi Obeng Siregar. (ini adalah tokoh fiktif. Jika ada kesamaan nama hal itu hanya kebetulan semata). Gw membayangkan kelak anak tersebut akan tumbuh menjadi montir atau tukang servis AC.


Hal semacam ini menimpa diri gw ketika lahir. Orang tua gw ketika melahirkan gw kebetulan menyaksikan Final Liga Champion antara AC Milan melawan FC Barcelona. Saat itu Milan mencukur Barca dengan skor telak 4-0.

Terkagum-kagum dengan permainan Paolo Maldini cs. orang tua gw pun memutuskan memberi nama anaknya yang baru lahir dengan nama MILANO. Sungguh random. Gw membayangkan seandainya yang menjuarai Liga Champion adalah tim seperti Toulouse FC. Pasti sekarang gw udah jadi penyanyi.

Merasa ada yang kurang dengan nama Milano, orangtua gw mulai mencari nama depan. 3 hari setelah kemenangan Milan, tim bulutangkis putra Indonesia berhasil menjuarai turnamen Thomas Cup. Bangga dengan prestasi Indonesia, nama pialanya pun dijadikan nama gw. ditambah nama keluarga, jadilah THOMAS MILANO SETIAWAN.

untung berakhir keren.


...
Seperti yang sudah dikatakan pada paragraf pertama, nama adalah doa. Bermula ketika gw kelas 2 SD kalo gak salah, saat itu seorang guru memberi PR untuk mencari tahu arti nama sendiri. Lantas saya yang masih imut dan lugu ini bertanya kepada orang tua saya mengenai arti nama saya.

Gw : Bu, arti namaku apa sih? dikasih tugas ama bu guru
Nyokap : Oh, nama kamu gak ada artinya kok. Kalo ada pun Ibu gak tau.
Gw : *shock* *merasa tidak disayangi* *mencoba bunuh diri*
Nyokap : soalnya asal nama kamu tuh.... *menjelaskan paragraf ke-3 sampai 5*
Gw : ooooh *gak ngerti bola saat itu*


Setelah mengetahui asal muasal nama keren ini, gw pun mulai menonton bola. Saat itu match pertama yang gw tonton dengan serius (dan dengan tidak sengaja) adalah Derby Della Madonnina antara Internazionale Vs AC Milan tahun 2001. Saat itu Milan membantai Inter 6-0. Shevchenko tampil gemilang dengan 2 golnya.

Setelah menyaksikan match tersebut hati gw terhenyak. Ternyata tim yang menjadi asal muasal nama gw sangat luar biasa. Semenjak saat itu gw mengidolakan AC Milan dan mulai mengikuti perkembangan sepakbola.


Pada tahun 2002, gw gak melewatkan Piala Dunia yang diselenggarakan di Korea-Jepang. Saat itu gw mendukung timnas Denmark. random bukan main. Dalam pikiran anak kelas 3 SD, nama Denmark terdengar keren. Selain itu banyak pemainnya yang bernama THOMAS. seperti Thomas Sorensen, Thomas Helveg, Thomas Gravesen, dan Jon Dahl Tomasson. Iya, yang terakhir emang bukan Thomas, tapi tetep masih mengandung nama gw meski tanpa hurup 'h'

Saat membaca skuad Denmark yang berlaga di PD 2002 di tabloid BOLA saat itu, tak butuh waktu 1 detik untuk gw langsung mendukung Denmark.


Namun sayangnya Denmark harus tersungkur di babak perdelapanfinal kala dihancurkan Inggris dengan skor 3-0. Saat itu gw kesal luar biasa saat menonton, sampai ikut menendang-nendang bola yang gw miliki di rumah, seolah ingin menunjukkan cara bermain bola yang benar. Padahal tendangan gw saat itu kena bola aja syukur alhamdulilah.

Meski begitu, kekalahan negara berjulukan 'Tim Dinamit' ini tidak menyurutkan semangat gw untuk main petasan. eh, nonton Piala Dunia. Mulai dari 'pengkhianatan' Ahn-Jung Hwan, gol kilat Hakan Sukur, sampai aksi Ronaldo menaklukan Oliver Kahn dua kali di Final, hampir tak ada yang gw lewati saat itu.



Tahun 2003, Milan semakin menjadi idola gw. Kedatangan Kaka dan perubahan posisi Andrea Pirlo menjadi Deep-Lying Playmaker oleh pelatih Carlo Ancelotti menjadi kunci keganasan Milan. Trofi Liga Champion saat itu menjadi bukti kekuatan Milan saat itu. Menyandang nama yang sama, gw pun ikutan bangga. Padahal gw main bola aja gak bisa.

Setelah itu, Milan mengalami pasang-surut. Pada tahun 2004, Milan disingkirikan Deportivo La Coruna secara memalukan di Liga Champion. Setelah unggul 4-1 di Leg Pertama, Milan lengah dan dibantai 4 gol tanpa balas di leg kedua. Untungnya Milan berhasil meraih Trofi Scudetto Serie A musim itu.

Tahun 2005, Milan kembali mencapai partai puncak Liga Champion. Namun seolah tidak belajar dari kesalahan tahun lalu, Milan dikalahkan Liverpool melalui adu penalti. Padahal Milan sempat unggul 3-0 di babak pertama. untungnya kekalahan dari Liverpool ini berhasil dibalas di tahun 2007. Saat itu Milan berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor 2-1, dan kali ini berhak mengangkat trofi Liga Champion yang ketujuh.

Skuad Milan pada masa-masa itu adalah skuad favorit gw sepanjang masa. Di sektor penjaga gawang, ada Dida yang memiliki refleks luar biasa. Di bagian belakang ada Paolo Maldini dan Alessandro Nesta yang merupakan duo bek tengah terbaik di dunia saat itu. Sementara di sisi bek sayap terdapat duo Brazil, Cafu dan Serginho yang selalu sigap dalam bertahan dan menyerang. Meski sejatinya Serginho adalah seorang Winger, ia dipaksa menjadi bek kiri akibat krisis cedera, namun penampilannya tetap gemilang.

Sementara itu di sektor tengah terdapat sang maestro Andrea Pirlo yang gemar memberi umpan memanjakan. Selain itu terdapat si badak Gennaro 'Rhino' Gattuso yang merupakan gelandang jangkar yang tak kenal lelah. Pada posisi Trequartista (pemain yang berada diantara 2 striker), terdapat seorang Kaka yang menyabet gelar pemain terbaik dunia pada 2007. Clarence Seedorf melengkapi lini tengah Milan dengan kelihaiannya dalam mengolah bola dan melakukan tendangan jarak jauh.

Lini depan Milan pun tidak perlu diragukan lagi. Kehadiran Andriy Shevchenko yang berkali-kali menjadi pencetak gol terbanyak Serie A dan Filippo Inzaghi yang sempat menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champion menjadikan Milan menjadi momok yang menakutkan bagi lawan-lawannya.



Namun saat ini Milan sedang dalam kondisi yang kurang baik. sudah 2 kali Milan tidak berhasil lolos ke Liga Champion yang sejatinya adalah DNA Milan sejak dahulu. Sebagai orang yang namanya diambil dari tim tersebut, disitu kadang saya merasa sedih.

Berbagai legenda telah pergi dari Milan, dan sekaranglah saatnya untuk memulai legenda baru. Dengan kucuran dana hasil penjualan sebagian saham Milan, dan dengan tangan dingin pelatih baru Sinisa Mihajlovic. Sudah saatnya Milan mengembalikan kejayaan yang hilang. Sebagai seorang Milanisti, aku akan tetap setia untuk terus mendukung Milan, baik dalam masa jaya maupun susah.


*artikel ini dibuat untuk mengikuti entah apa itu yang diselenggarakan my_supersoccer tapi ternyata gak menang. sial.

1 komentar:

Nan mengatakan...

Awalnya ibu gua mau namain gua Nanda Devi. Maunya itu mau banget.
Itu salah satu gunung tertinggi di Himalaya, yang terkenal angker. Nggak kebayang kan gua tumbuh jadi gimana kalau nama itu jadi dipakai? Mirip-mirip Sadako kali ya. Atau jurig gunung.